NEWSOPINI

Aceh Atra Geuntanyoe, “Aceh Under Attack”

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Subhanallah Alhamdulillah. Sahabat “AKHAN” (Akmal Hanif)

Pekan ini mungkin adalah saat-saat paling membahagiakan bagi masyarakat Aceh, karena kita baru saja kehadiran dua tamu mulia dan istimewa, yaitu Almukarram Ustadz Abdus Somad dan Habib Novel Alaydrus. Seperti sebelumnya pernah saya sampaikan, itu adalah sebuah barakah atas di deportasi-nya UAS dari Hongkong. Betapa rencana Allah begitu Indah.

Kehadiran keduanya seakan menjadi penyejuk dan pelipur duka bagi kita di Aceh, yang sedang memperingati 13 tahun bencana dahsyat Gempa dan Tsunami Aceh 2004. Kedatangan para tuan guru tersebut juga menjadi spirit bagi kita untuk memerangi bahaya LGBT yang pecan ini di tandai dengan Aksi Damai Deklarasi Gerakan Anti LGBT Aceh (GALA).

Sahabat Akhan, Aceh adalah milik kita.

Aceh adalah warisan nenek moyang kita para ulama dan pejuang yang telah berkorban jiwa raga dengan airmata dan darah, agar Nanggroe ini makmur dan bersyariat. Jika generasi dulu telah berkorban demikian besar untuk Aceh, apa yang dapat kita lakukan sekarang untuk menjaga nanggroe ini, sehingga masih layak kita wariskan untuk anak cucu generasi selanjutnya?

Sementara saat ini kita sadari atau tidak, Aceh sedang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jika ibarat tubuh manusia, maka manusia tersebut adalah pasien yang menderita komplikasi penyakit dan harus dirawat dengan pehatian intensif beberapa dokter spesialis.

Saya mencatat beberapa hal yang saat ini menjadi permasalahan besar di Aceh, berdasarkan data yang saya baca dari media cetak, media siber, media social hingga yang saya saksikan atau temuan langsung dilapangan. 10 Masalah yang di hadapi Aceh saat ini :

  1. Aceh masih kekurangan Sarana dan Prasarana Insfrastruktur sebagai Fasilitas Pendukung Pelayanan Publik di sejumlah kabupaten kota. Seperti sarana Ibadah, Pertanian, Pendidikan, Sosial, Kesehatan, Olahraga dan ruang kebutuhan publik yang ramah masyarakat.

 

  1. Aceh masih dihadapkan pada persoalan pendidikan dimana banyak generasi muda Aceh yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, atau melanjutkan ke pendidikan S2 – S3, karena faktor biaya kuliah yang tinggi.

 

  1. Aceh masih rentan dengan tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme dari tingkat pemerintahan tertinggi hingga terendah.

 

  1. Aceh masih minim upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk lebih mandir di sektor pertanian dan perkebunan, serta memperkenalkan komoditi Aceh ke dunia Internasional.

 

  1. Aceh harus lebih menggalakkan program pengajian untuk generasi muda dan remaja khususnya, guna membentengi diri dari upaya misionaris, pendangkalan akidah, aliran sesat , perjudian online, kekerasan pengaruh permainan game internet, pornografi, pengaruh bahaya LGBT serta pergaulan bebas (free sex) yang berimbas pada peningkatan kasus HIV AIDS.

 

  1. Aceh masih belum optimal memberikan pelatihan dan pembinaan wira usaha bagi generasi muda, sehingga angka pengangguran semakin tinggi, sementara tidak tersedianya peningkatan lapangan kerja.

 

  1. Aceh belum memberikan kesempatan yang luas bagi tenaga kerja professional untuk mendapatkan kesempatan kerja baik di Aceh maupun mengfasilittasi bekerja di luar negeri. Sehingga banyak SDM professional Aceh lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi Internasional, tidak berkarir di bidang yang sesuai dengan keahlian akademik yang dimiliki. Sementara yang di pekerjakan di suatu bidang, bukanlah yang ahli di bidangnya. Saya istilahkan “The Man in the Wrong Job.”

 

  1. Aceh masih belum memberikan sanksi hukum yang tegas bagi pelaku kejahatan Narkotika, sehingga masalah peredaran dan penggunaan narkoba masih sangat tinggi di Aceh. Selain merusakan generasi muda, juga menjadi salahsatu penyebab timbulnya kasus HIV AIDS.

 

  1. Aceh harus lebih menggalakan program pertanian atau perkebunan Alternatif , agar masyarakat Aceh tidak bergantung dan terpengaruh untuk menanam tumbuhan narkotika jenis Ganja.

 

  1. Aceh harus lebih mendukung terbentuknya organisasi dan komunitas kepemudaan dengan aktifitas positif. Selain membantu mengurangi kenakalan remaja dan aksi kriminal usia dini, akan membantu meringankan tugas pemerintah dalam memberi perhatian kepada masyarakat di bidang tertentu.
Kesempatan saling berbagi ilmu dengan pelaku UKM di Lhokseumawe

 

Sekali lagi, Aceh adalah milik kita dan menjadi tanggung jawab kita. Aceh milik Gubernur dan Kepala daerah, Aceh miliki Panglima Kodam dan Kapolda beserta jajarannya, Aceh milik para Ulama, Aceh milik kaum perempuan dan anak-anak, Aceh milik umat Muslim dan non muslim yang tinggal di sini, Aceh milik Pemuda, Aceh miliki masyarakat dengan semua latar belakang social pekerjaan dan profesi, Aceh milik orang Aceh. Maka setiap kita berkewajiban “fardhu ien” menjaga Aceh. Bukan melimpahkan tanggung jawab pada satu pihak dan saling menyalahkan. Apalagi jika hanya menyerahkan persoalan pada Umara dan Ulama.

Permasalahan yang kami sebutkan tadi merupakan tantangan yang harus menjadi perhatian prioritas semua pihak. Kita jangan di lalaikan dan terlalu euphoria dengan program-program atau event tertentu, yang tidak memberi manfaat secara langsung kepada masyarakat Aceh, baik ekonomi maupun moral dan spiritual. Sangat disayangkan jika sebuah ada program pembangunan yang menggunakan anggaran daerah yang cukup besar, namun tidak memberi dampak signifikan pada kesejahteraan rakyat.

Silaturahim dengan Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda Aceh, Bapak Mayor Jenderal Moch. Fachrudin,

 

Mungkin di antara sahabat AKHAN akan bertanya, apakah saya hanya berbicara saja mengungkapkan masalah tanpa memberikan solusi dan aksi?

Seperti yang sering disampaikan ustadz Abdus Somad dalam ceramah beliau, “Orang yang paling mampu menjaga dan mengatasi masalah di suatu negeri, khususnya persoalan Agama,  kemakmuran ekonomi serta menjaga akhlak dan moral generasi muda, ada di tangan orang yang memiliki kekuasaan.”

Namun demikian, Alhamdulillah, beberapa dari permasalahan yang di hadapi Aceh yang tadi disebutkan, saya bersama sahabat-sahabat pemuda dari berbagai wadah komunitas dan organisasi telah sedikit berbuat untuk mengatasi masalah tersebut. Namun itu hanya sebatas kemampuan kami sebagai hamba dhaif, rakyat biasa seperti anda semua.

Insya Allah pada tulisan motivasi mendatang, kami akan coba memaparkan solusi dan aksi atas setiap permasalahan yang kita hadapi, semata untuk menjaga Nanggroe Aceh tetap menjadi Negeri yang Makmur dan dijauhi dari Bala Bencana, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Aamiin Ya Allah, Ya Rabbal Aalamiin.

 

Hasbunallah wa Ni’mal Wakil

Abi H. Akmal Hanif, Lc.

Ketua Umum Komunitas Solidaritas Dhuafa Aceh(KSDA).

CEO Elhanief Group

 

dikutip dari :  Motivasi Akmal Hanif, Edisi – 10.
10  Rabiul Akhir 1439 H – 29  Desember 2017

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close