OPINI

Akmal : “Eiffel Tower itu Keren, Karena bentuk inisial nama saya..” :)

Saya tiba di Bandara Paris, Prancis, setelah melawat ke Spanyol. Karena ini perjalanan pertama ke Eropa, saya sempat bingung saat menuju ruang imigrasi untuk urus visa masuk.

Namun, orang-orang terus berjalan ke luar dan teman saya memberi informasi bahwa di negara Uni Eropa kita bebas ke mana saja dari satu negera ke 22 negara lainnya tanpa visa dan paspor, kecuali Inggris yang baru saja ke luar dari Uni Eropa. Cuma, bagi warga negara Eropa wajib membawa IC, semacam kartu tanda penduduk di Indonesia.

Saya tiba di Paris pukul 07.00 waktu setempat saat cuaca cukup dingin. Setelah minum teh dan makan roti untuk sarapan, dari Bandara Paris saya ke stasiun kereta menuju Menara Eiffel. Semua transaksi pakai mata uang euro, gesek pakai kartu debit atau kartu kredit.

Meski jualannya di gerobak kecil, mirip kedai-kedai di pinggir jalan di Banda Aceh, tapi transaksinya menggunakan kartu debit. Beli apa pun, para pedagang akan menyarankan dan meminta kartu debit, tidak disarankan pakai uang tunai. Proses geseknya pun kita sendiri yang lakukan, bukan seperti di Indonesia petugas counter yang menggesek. Menuju Menara Eiffel pakai kereta cukup asyik. Saya juga terkagum-kagum dan sempat tertawa lepas melihat ban kereta sebesar ban mobil tronton di Indonesia. Satu gerbong kereta memakai ban kurang lebih 12 ban dan kereta melaju sangat kencang.

Dua kali pindah kereta, saya tiba juga di Menara Eiffel meski sempat salah dan linglung menuju lokasi menara yang terkenal itu. Hal yang patut ditiru, di Eropa jika kita salah jalan dan bertanya kepada warga tentang lokasi wisata atau tempat terkenal, mereka dengan senang hati mengarahkan kita ke lokasi yang tepat. Saya sudah merasakannya.

Rasa penasaran akan kemegahan Menara Eiffel akhirnya terjawab juga. Tapi, begitu sampai dan melihatnya, terkesan biasa saja. Tak ada sesuatu yang membut saya tertarik. Tidak terlalu hebat, tingginya pun tidak seperti Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur. Jauh lagi, jika dibandingkan dengan menara Burj Khalij di Dubai.

Menara ini biasa saja, tak jauh dengan tower-tower telekomunikasi di Aceh. Cuma, ada lift untuk naik ke puncak dan kita harus bayar. Karena ukurannya yang besar, mungkin itu yang bikin orang kagum.

Namun bagi saya, menara ini keren karena bentuk arsitekturnya yang menyerupai huruf “A” yang bagi saya merupakan inisial AKMAL …hehe…14572880_10209476202374535_418257525928824403_n

Setelah berjalan mengitari halaman di kawasan menara, saya sampai ke bawah menara dan terkejut melihat banyak sekali pedagang dan peminta-minta sedekah. Termasuk anak remaja dari Rumania. Mereka minta sedekah, katanya, untuk anak yatim.

Untuk naik ke menara ini, antreannya panjang. Kita harus bayar untuk bisa naik. Saya tak tertarik naik. Cukup berdiri foto-foto saja dengan latar belakang Eiffel. Untuk melihat menara dengan pemandangan yang utuh, saya rjalan menjauh untuk mendapat posisi foto yang menarik.

Saya kembali bertemu dengan remaja peminta-minta sedekah di bawah menara. Tapi remaja ini ditangkap petugas keamanan di lokasi Eiffel. Di sekitaran menara banyak pedagang souvenir khas Paris, baik yang dijual di gerobak maupun di atas tikar yang digelar di tanah.

Pemandangan sesaat, terkesan kawasan Eiffel ini semrawut, tidak rapi, sama seperti di beberapa kawasan wisata di Indonesia. Pedagangnya banyak. Kesan tentang Paris berbeda jauh saat saya di Swedia dan Spanyol yang bersih dan tertib.

Para penjual souvenir di kawasan Eiffel didominasi pedagang berkulit hitam dari Senegal. Saat saya tanya, rata-rata mereka muslim imigran yang mengadu nasib di Paris. Sebagian mereka masih berbahasa Arab.

Para imigran muslim di Paris juga tak bisa bebas beraktivitas mencirikan mereka sebagai muslim. Ibadah juga tidak bisa terang-terangan seperti pengakuan beberapa imigran Senegal kepada saya.

Para pedagang dari Senegal ini menggelar dagangan di sudut-sudut menara maupun di tanah pada kawasan yang tak jauh dari menara. Mengapa mereka berjualan dengan tikar digelar di tanah? Rupanya ini salah satu trik agar mereka bebas bergerak mengamankan barang jualan saat ada razia polisi. Mereka dengan sigap melipat kain yang jadi alas jualan saat polisi merazia pedagang. Smart.

Harga souvenir di sini cukup mahal. Satu kaos bertulis I Love Paris dibanderol 13 euro (hampir Rp 200.000)

Saat perut keroncongan, saya mencari makanan di kawasan ini. Wah, ternyata susah mencari makanan halal. Berjalan putar-putar juga tak ketemu. Akhirnya saya search di Google, baru saya temukan.

Berkat bantuan GPS saya akhirnya dituntun ke salah satu tempat makan halal. Semua transaksi di sini sudah terkoneksi dengan internet. Begitu juga jadwal ketibaan dan keberangkatan bus.

Nah, khusus kawasan Menara Eiffel merupakan tempat yang digemari pasangan muda dan mereka yang akan menikah. Beberapa pasangan terlihat berfoto, prewedding. Bahkan banyak dari Tiongkok dan Jepang.

Itulah Menara Eiffel yang kata orang tempat terhebat, tapi saya tak beruntung menikmati keindahan itu karena cuaca sedang tidak bersahabat. Angin kencang pun banyak membawa debu dan sampah berserakan. Kawasan menara juga terlihat saat ini tak begitu terawat.

Laporan Akmal Hanif dalam kunjungan Elhanief Group Tour 8 Negara Eropa, kegiatan memperkenalkan KSDA dan  KPMI, serta komoditi Aceh ke pasar Eropa.

Artikel ini juga terbit di harian Serambi Indonesia edisi, Jumat, 21 Oktober 2016.

editor : Deddy Ridwan

 

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close