AGAMANANGGROENASIONALNEWSSOSIAL BUDAYA

Banda Aceh Kota Intoleran? Khairul Laweung : “Tidak Logis dan Tendensius”

Ketua ISKADA Aceh Tanggapi Publikasi Setara Institute

Lensa Aceh, Banda Aceh –  Pernyataan “Banda Aceh Kota Intoleran”  dibantah Khairul Laweung. Ditemui di Banda Aceh, ahad (9/12/2018) Ketua DPP Ikatan Siswa Kader Dakwah Aceh (ISKADA) itu menilai hasil publikasi Setara Institute yang menempatkan Banda Aceh sebagai kota yang tidak toleran adalah sangat tidak logis dan terkesan Tendensius.

Khairul Lawueng, Ketua ISKADA

Khairul menerangkan bahwa kehidupan antar umat beragama di Aceh secara umum sangat harmonis. terutama di kota Banda Aceh sebagai ibukota provinsi.  Terlebih sejak kementrian Agama Kota Banda Aceh bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), mendeklarasikan Banda Aceh sebagai kota ramah dan sangat kondusif kehidupan antar umat beragama.

“Semua umat beragama yang tinggal di Aceh seperti kristen, Hindu dan Budha, .mengakui sangat nyaman hidup dan melakasanakan ibadah di Aceh. khususnya kota Banda Aceh.” sebut Khairul.

Umat Nasrani Melaksanakan Misa dan Ibadah dengan Nyaman di Gereja Pusat Kota Banda Aceh

Ia juga memaparkan bahwa di Banda Aceh terdapat semua rumah ibadah yang melaksanakan ritual keagamaan tanpa gangguan sejak dulu. Sebut saja ada seperti Gereja, Viara, Klenteng yang semuanya berlokasi di pusat kota. Di Banda Aceh juga ada sekolah Methodis dan sekolah khusus umat nasrani, namun siswanya bergaul dengan baik dengan anak-anak umat Muslim.

“Bahkan beberapa forum FKUB diluar jawa dan sumatera pernah melakukan studi banding untuk belajar. kerukunan umat beragama di Banda Aceh dalam konteks menjaga kebhinekaan.” ujar Khairul  lulusan terbaik Jurusan Perbandingan Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu.

Methodist, Salah satu Sekolah Anak-anak Umat Nasrani di Banda Aceh

Khairul menegaskan sejak dulu  tidak pernah terjadi bentrokan antar agama di Banda Aceh. Bahkan umat non muslim dengan damai bisa merayakan hari hari besar, termasuk melakukan pawai keagamaan di jalan utama kota yang disambut baik warga kota Banda Aceh.

Khairul Laweung juga menyebut Tentang kehidupan umat beragama di Aceh juga menjadi judul skripsi S1 nya, dengan judul “Respon Non Muslim terhadap Penerapan Syariat Islam di Kota Banda Aceh”. Saat melalukan penelitian dirinya mewawancarai para tokoh masing-masing agama di Aceh, yang semua mengaku tenang, tidak ada hak non muslim yang dikebiri atau dihalangi dengan pelaksanaan Syariat Islam.

baca : Mengunjungi Peunayong “Chinatown” Laboratorium Toleransi di Banda Aceh

Bahkan ada warga non muslim yang menyebut lebih merasa nyaman dan damai melaksanakan ibadah di Aceh, dibandingkan daerah lain di Indonesia yang tidak menerapkan Syariat Islam.

“Jadi apa yang di release Setara Institute sangat tidak realistis dan terkesan tanpa data. Tidak ada dasar menempatkan Kota Banda Aceh diurutan kedua kota intoleran dalam kehidupan kerukunan Beragama di Indonesia,” tegas mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama Dua Periode tersebut.

Wihara Umat Budha di Pusat Kota Banda Aceh

Khairul juga menyebut kenal baik beberapa tokoh Setara Institut, seperti Direktur Utama Hendardi dan Ismail Hasani, karena pernah menjadi mitra kerja di Lembaga Badan Penguatan Perdamaian Aceh. Ia berharap Setara Institut sebagai lembaga yang didalamnya ada beberapa tokoh yang cerdas, berwawasan tinggi serta selalu bekerja dengan profesional, untuk mencabut pernyataan mereka.

“Semoga Setara Institut mencabut pernyataan mereka dan memberikan klarifikasi ke media. Jangan sampai pernyataan yang merugikan Aceh dan khususnya Kota Banda Aceh ini, membuat kepercayaan masyarakat kepada Setara menjadi berkurang,” tutup Mantan Peraih Mahasiswa Teladan Aceh ini.

 

Tags
Show More

Deddy Ridwan DS

Deddy Ridwan menekuni dunia jurnalis sejak masa kuliah bergabung dengan UKM Radio Kampus Unsyiah 100,9 FM (1997) mengikuti jejak sang Ayah (alm.) Ridwan DS, wartawan senior RRI Banda Aceh. Tahun 2007 menjadi Presenter Talkshow, Produser Program, Anchor dan Reporter Aceh TV hingga sekarang. Tahun 2015 sempat bertugas sebagai staf Humas MPU Aceh. Tahun 2016 bertugas sebagai Humas elhanief Group dan mulai mengelola Lensa Aceh dibawah PT. Elhanief Makmur Abadi Media

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close