OPINIPOLITIK

Hadapi Kompetisi Pesta Demokrasi. Menang Tetap Rendah Hati, Kalah Bermartabat Sebagai Ksatria

oleh Prof. Syamsul Rijal

MEMASUKI 2019 yang akan menjadi tahun politik, tahapan demi tahapan akan di lalui oleh para peserta Pemilu, khususnya calon legislatif, partai politik beserta tim pemenangan.

Seperti lazimnya sebuah pesta demokrasi, pada endingnya akan terpilih figur-figur terbaik yang menjadi pilihan untuk mengemban amanah rakyat. Euforia kemenangan akan terjadi baik dari para caleg, timses dan partai pendukung.

Begitu pun, dengan para caleg yang nantinya belum beruntung menempati posisi yang diharapkannya ketika perolehan suara rontok tak menggembirakan. Mereka harus rela atas kenyataan yang nanti dihadapi pasca pemilu. Tidak sedikit yang galau menghadapai situasi seperti saat ini, di mana aura kekalahan terus menghantui sementara logistik yang dikeluarkan untuk pertarungan di pemilu cukup banyak.

Dalam setiap kompetisi, termasuk dalam pemilu, semua pihak akan berhasrat untuk memenangi pesta demokrasi tersebut. Namun penting ditanam dalam sanubari sejak awal, bagi  yang meraih kemenangan, bahwa Islam mengajarkan tetap rendah hati saat kemenangan telah didapat.

“Tautkanlah hati terus dengan nilai-nilai ilahiyah.”

Orang yang rendah hati saat kemenangan diraih, maka ia tidak akan takabbur atau bertambah sombong. Sebaliknya,bagi para peserta pemilu dan caleg yang gagal alias tidak meraih suara yang diinginkan jangan pula menjadi galau.

Jika perjuangan di pemilu tersebut dilakukannya dengan baik dan dengan jalan yang benar, maka kekalahan itu   merupakan kekalahan yang bermartabat. Itulah jiwa-jiwa Ksaria.

Saat seseorang telah melalui proses dengan cara bermartabat, berjuang mengikuti mekanisme jalan yang benar lalu belum berhasil karena yang lain yang terpilih, itu dia sudah kalah dengan kekalahan yang terhormat dan jiwa ksatria.  Dan itu saat paling tepat untuk  Bersyukur lalu bersegerahlan mohon ampun kepada Allah Swt. Bersyukur karena Allah telah menetapkan yang terbaik bagi dirinya.

Sebaliknya, jika seseorang berjuang dengan jalan tidak benar tidak hak dan kalah, maka kekalahan itu kata   adalah kekalahan tidak bermartabat.

Menyikapi Kekalahan

Saat kekalahan benar-benar nyata, termasuk kalah suara alias tidak ada yang memilih seseorang sebagai caleg. Maka semakin perbanyaklah zikir agar tentram jiwa. Berada dalam atsmosfir keampunan Allah itu adalah pilihan cerdas apalagi dalam suasana galau. Memperbanyak zikir kepada Nya itu menenteramkan.

Selain itu, hendaknya seseorang memahami kembali dirinya pasca pemilu. Memahami keterbatasan akan menjadi obat dan pelipur lara.

Yang baik tidak menang atau kalah, bukanlah kekalahan yang nyata. Melainkan itulah yang terbaik baginya sebagai ketetapan Allah Swt.

“Mereka yang menyandarkan kepada ketentuan (baca : takdir-Nya) akan lebih nyaman dan tenteram.”  

Penulis : Prof. Dr. Syamsul Rijal, MA adalah Guru Besar Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

dikutip dari wawancara serambinews

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close