NASIONALOPINIPOLITIK

“Olok-Olok Award”

Romantika Parpol Peserta Pemilu 2019

AWARD, dalam bahasa kampung kita, diartikan dengan penghargaan.

Biasanya diberikan kepada perorangan atau individu, atau mungkin kepada sebuah kumpulan yang dinilai berhasil meraih prestasi tertentu. Mereka yang berhasil menerima award biasanya akan bersuka cita, bergembira, merasa tersanjung, dan perasaannya mengangkasa karena itu bentuk pengakuan dari pihak penilai kepada si penerima.

Begitu banyak rupa award di dunia ini. Ada award di dunia industri film layar lebar, yang dikenal dengan Academy Award, atau sering disebut dengan Piala Oscar. Di blantika musik ada penghargaan yang disebut dengan Grammy Award, yang awalnya bermula di Hollywood pada Tahun 1950-an. Ada juga penghargaan Miss World, Nobel Prize, atau Golden Globes, yang semuanya juga award. Ditambah lagi dengan World Music Award, MTV Movie Award, dan MTV Video Music Award. Intinya, ada berbagai macam award.

Ragam award yang disebut diatas semuanya bernilai prestise. Membanggakan bagi si penerima. Karenanya, tidak heran jika banyak yang berlomba-lomba, berusaha mati-matian untuk meraihnya. Dunia seakan mampu ditundukkan dengan raihan itu. Makanya, award itu dikejar habis-habisan.

Lihat saja bagaimana pentas penyerahan award itu dibuat se spektakular mungkin dan semeriah-meriahnya. Yang dipanggil sebagai yang terbaik pun bahagianya bukan main.

Mereka naik ke pentas untuk menerimanya dengan penuh kebanggaan. “Sebagai Aktor terbaik..Aktris terbaik..Penyanyi terbaik..Aranser terbaik..Sutradara terbaik..Pemeran Pembantu terbaik..Bahkan, Desainer terbaik..Perusahaan terbaik..dan ragam terbaik lainnya….”

Tak ada yang membantah jika award itu memang identik dengan nilai atau norma yang sangat terpuji. Sesuatu yang memotivasi untuk menuju pada kebaikan dan kemuliaan. Sesuatu yang mengandungi nilai atau ajaran untuk meraih prestasi setinggi mungkin.

Belum pernah kita mendengar ada award untuk sesuatu yang buruk-buruk, apalagi yang berstigma negatif. Seumur-umur, saya belum pernah mendengar ada, “Pencuri award, Penipu award, Penggelap Pajak award, Perompak award, Pendusta award, Pencoleng award  dll”

Nah, ketika ada sebuah partai politik nasional selaku penyelenggara sebuah kegiatan, memberikan award atau penghargaan kepada seorang tokoh bangsa, dan award itu cenderung merusak nilai-nilai atau ajaran yang sejatinya mengandungi kebaikan, kita tentu merasa sangat prihatin. Mengapa makna award harus bergeser dari sesuatu yang awalnya mulia ke hal yang buruk. Tidakkah arah demokrasi kita untuk menelurkan nilai-nilai yang berbudi, bukan menyemai rasa benci yang sebenci-bencinya?

Etiskah memberikan “Kebohongan award”, “Pendusta award”, “Penista award”, atau award-award lain kepada seseorang, atau kumpulan orang, yang justru itu akan merusak nilai atau citra baik dari award itu sendiri? Maaf, saya hanya bertanya. Tak mau ikut campur terlalu jauh.

Sebagai guru, saya amat sering bertemu anak didik yang sangat bandel, pembantah, pemalas, suka telat, atau berpenampilan acak-acakan. Tapi, tetap saya hargai dan bimbing dia. Tak pernah saya berikan penghargaan dia sebagai, “Pembandel award”, “Pembantah award”, “Pemalas award”, Pentelat award”, atau “Pengacak award”.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close