OPINIPOLITIK

Orang Gila dan Visi Misi Capres

Romantika Pemilu dan Pilpres 2019

TANGGAPAN peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, baru-baru ini menarik untuk disimak. Hal yang paling menarik dari amatan Siti Zuhro adalah, berkaitan dengan respon mirisnya terhadap kebijakan yang dibuat KPU (Komisi Pemilihan Umum) terkait dengan Pilpres 2019 mendatang.

Setidaknya, ada 2 kebijakan yang dinilainya kurang bisa diterimanya, yaitu ikut sertanya orang gila sebagai calon pemilih dalam Pilpres 2019 dan dihapusnya item penyampaian Visi-Misi oleh para Capres-Cawapres.

Saya tak mau ikut campur soal masuknya orang gila sebagai calon pemilih. Saya bukan ahli psikologi. Bukan pula ahli neurologi. Apalagi, (maaf) belum pernah mengalami sakit jiwa (gila), sehingga tidak bisa memvonis apakah saat orang gila memilih dalam kotak suara nanti dia tahu dan sadar tentang kertas suara yang ada di hadapannya, atau dia sama sekali tidak sadar tentang benda yang ada ditangannya.

Syukur-syukur jika kita turut ikhlas berdoa agar orang gila yang akan ikut memilih nanti tidak sampai kumat gilanya, dan lalu mengobrak-abrik bilik suara dengan segala isinya. Jika jadi bangkit kumatnya, tak terbayangkan bagaimana kocar-kacirnya mereka yang berada di sekitar TPS (Tempat Pemungutan Suara).

Namanya saja orang gila. Tak bisa kita tebak arah langkah dan cara dia “mengamuk”. Sebaiknya, sekedar saran, kali ini para orangtua harus ekstra hati-hati jika ingin membawa serta anaknya saat memberikan suara di Pilpres 2019. Jangan karena Pilpres, anak balita kita bisa stress akibat menonton amukan orang gila, jika memang nanti terjadi. Semoga tidaklah, ya.

Terus terang, tak mungkin kita memberi penilaian terlalu jauh mengenai rasionalitas yang dibangun terkait dibolehkannya orang gila ikut memilih dalam Pilpres kali ini. Apalagi, jika yang menilai itu sendiri memang tidak gila, atau belum pernah merasakan gila. Tentu, tak boleh berasumsi atau berpersepsi terlalu melebar. Takut salah. Takut juga dianggap ikut-ikutan gila karenanya. Mungkin, karena ini juga peneliti senior LIPI tadi ikut mencemasi kebijakan KPU kali ini? Saya pun tak begitu mahfum.

Yang sedikit agak membatin dihati kali ini adalah pasal ditiadakannya kewajiban para Capres untuk menyampaikan Visi-Misi mereka di depan publik. Ini memang kurang logis. Apalagi jika dikaitkan dengan substansi daripada Visi yang dimaknai sebagai “what do we want to have”. Dalam bahasa kampung kita, “kondisi ideal yang kita dambakan untuk dimiliki”. Visi adalah sasaran agung. Sesuatu yang amat mulia untuk dicapai atau diwujudkan.

Visi akan mudah dicapai jika ianya didukung oleh Misi yang baik dan tepat. Sebagai “what do we want to be”, Misi harus dikemas sedemikian rupa dengan tujuan dan sasaran yang jelas dan terukur.

Visi dan Misi itu akan mudah dipetik hasilnya jika ada kejelasan konsep dan pengertiannya. Mewakili penderitaaan yang ada di sebuah negara/daerah. Didambakan oleh mereka yang mengusung dan akan diusung, termasuk oleh anggota organisasinya. Manajemennya bagus dan didukung oleh strategi yang tepat, juga keandalan dari pemimpinnya.

Semua hal di atas merupakan sesuatu yang masih mengandungi pertanyaan. Itu harus mampu diuraikan dan dijawab oleh pengusungnya (dalam hal ini para Capres), jika ada pihak yang ingin mengetahuinya lebih dalam. Secara psikologi dan moralitas, ada kewajiban si pengusung untuk memaparkan bagaimana Visi dan Misi yang ada di benaknya. Selain untuk menggambarkan kondisi ideal yang menjadi mimpinya untuk direalisasikan, juga menunjukkan langkah-langkahnya menuju ke sana lewat Misi-Misi yang telah dirancangnya, termasuk strategi, kebijakan, dan program-program unggulannya.

Nah, yang jadi soal, bagaimana calon pemilih dalam Pilpres 2019 nanti bisa paham kondisi ideal masa depan yang ingin diwujudkan, termasuk misi-misi yang akan diimplementasi, jika paparan penyampaian Visi-Misi itu ditiadakan oleh penyelenggara Pemilu?

Mungkin bagi mereka calon pemilih yang terdiri atas “orang-orang gila” tadi, perkara ini tidaklah penting. Namanya juga orang gila, manalah mereka peduli.

Tapi, bagi calon pemilih yang sehat, rasional, bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa, paparan Visi-Misi dari para Capres menjadi sesuatu yang teramat penting dan strategis.

Ketika sampai pada tahap ini, saya dan (juga) para sahabat FB tentu sejalan dengan Bu Siti Zuhro, tak habis pikir mengapa pemaparan Visi-Misi oleh para Capres sampai harus ditiadakan?

Pesan akhir, jangan pula para sahabat terlalu lama memikirkan perkara ini. Sebaiknya, tenang, berhati-hati, dan jaga pikiran. Para sahabat tak perlu terlalu serius soal ini.

Saya takut, jika terlalu serius akan ikut menambah daftar “orang gila” didalam DPT, nanti.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close