OPINI

“Surat Harapan” Untuk Abang Supir Bus dan Pengelola Transportasi di Aceh

“Saya adalah tipe orang yang suka bepergian atau melakukan perjalanan karena tuntutan tugas. Jika melakukan perjalanan darat, kadang menggunakan kendaraan pribadi jika antar daerah di Aceh dan menggunakan transportasi umum seperti Bus jika keluar Aceh menuju Medan, Sumatera Utara.

Sejak dulu tranportasi bus menjadi favorit masyarakat Aceh jika menuju Medan, karena berbagai keperluan. Baik urusan pekerjaan hingga kunjungan atau liburan keluarga. Alhamdulillah armada bus sangat banyak tersedia dengan kondisi bus yang juga sangat memuaskan disbanding bus di beberapa propinsi lain di Indonesia.

Namun sudahkan bus kita memenuhi standar pelayanan yang baik bagi penumpangnya, khususnya masyarakat Aceh?

Saya ceritakan beberapa pengalaman yang membuat saya kecewa sebagai masyarakat pengguna bus yang berhak mendapatkan kenyamanan menggunakan fasilitas transportasi umum ini.

Saya pernah menumpang salahsatu Bus (tidak saya sebutkan nama perusahaannya) menuju kota Medan. Waktu itu pihak bus menyetel music dan lagu dengan volume yang cukup keras. Padahal saat itu sudah sekitar jam 2 tengah malam. Jelas saya  tidak dapat tidur dengan kondisi tersebut dan beberapa penumpang lain juga terlihat sama seperti saya. Namun tidak ada penumpang yang menegur atau meminta pihak bus mengecilkan volume. Saya pun yang  duduk di barisan kursi agak belakang, agak malas untuk menuju ke bagian depan karena ngantuk dan kelelahan. Seharusnya pihak bus khususnya bang Supir memahami kondisi penumpang. Jika pun ingin memutar musik agar ada hiburan untuk mengusir kantuk, hendaklah dengan suara yang tidak terlalu keras dan lagunya pun disesuaikan.

Pengalaman lain, ada beberapa oknum supir bus yang suka ugal-ugalan membawa kendaraan. Kadang saling ngebut adu cepat dengan menyalip bus dan kendaraan lain, mungkin dengan alasan berebut penumpang di tengah perjalanan. Hal ini bukan saja membuat cemas penumpang, bahkan juga membahayakan penggunan jalan lain baik dengan roda empat apalagi roda dua. Sehingga kadang saya berpikir, mungkin itu sebabnya terjadi kasus pelemparan kaca bus oleh oknum masyarakat, baik di wilayah Aceh maupun Sumatera Utara. Ironinya saat baru-baru ini kita dengar ada peristiwa kecelaan bus, di media social saya perhatikan ada yang malah mem-bully kejadian tersebut sebagai akibat dari sikap supir yang sering ugal-ugalan.

Kondiis lain yang sering saya jumpai adalah Merokok di Dalam Bus. Biasanya dilakukan oleh supir, lagi-lagi dengan alasan untuk mengusir rasa kantuk. Padahal di dalam bus ada penumpang lain yang merasa tidak nyaman, apalagi bagi wanita, ibu hamil, anak – anak dan balita, yang otomatis jadi perokok pasif. Sebaiknya tidak lah merokok di dalam bus, konon lagi jika sudah menjadi “makmum” merokok berjamaah di barisan depan bus. Mengikuti supir bus yang menjadi “imam” nya.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan, adalah pengharapan bagi supir bus untuk memberikan kesempatan shalat Subuh bagi penumpang di saat awal masuk waktu subuh, bukan di penghujung waktu. Supir bus bisa berhenti di masjid terdekat, jika sudah masuk waktu subuh, tidak mesti harus mengejar masjid yang lebih jauh. Agar penumpang lebih nyaman melaksanakan ibadah, tidak terburu-buru mengambil wudhu dan antri ke kamar kecil.

Kepada masyarakat para penumpang hendaknya lebih berani menegur dan meminta pelayanan yang lebih baik dari pihak bus, karena itu hak kita sebagai pengguna transportasi. Kepada pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan, juga mohon di setiap bus di tempelkan kontak sms pengaduan, jika ada armada bus yang tidak memberi pelayanan dengan baik atau melanggar aturan pelayanan publik. Jika perlu ditegaskan kembali peraturan ini dalam sebuah Qanun atau Undang-undang.

Salam Hormat.
Akmal Hanif

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close