POLITIKPROFIL CALEG PEMILU 2019

Tgk. Marsyuddin, Wakil Santri Untuk Parlemen DPR Aceh

Menentang Pemanfaatan Ulama dan Santri Untuk Kepentingan Politik Pemerintah

Awalnya politik bukanlah hal yang menarik bagi Tgk. Marsyuddin. Pemuda yang lebih akrab disapa dengan panggilan Tgk, Mudas ini mengaku dulunya lebih tertarik dunia pendidikan dan bisnis. Ketertarikannya pada dunia politik muncul pada pertengahan tahun 2008 saat dirinya mulai mondok di pesantren, Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiah Mesjid Raya, MUDI Mesra Samalanga, Saat itu pimpinan dayah, ulama karismatik Aceh Tgk. H. .Hasanoel Bashry.HG atau Abu Mudi, memaparkan pandangan dan pendapat beliau tentang kondisi Aceh.

Tgk,. Mudas bersama Ulama Aceh Al Mukarram Abu MUDI Samalanga

Sejak itulah Tgk. Mudas menganggap harus terjun ke dunia politik, sebagai media perjuangan membangun Aceh. Tidak begitu sulit baginya mempelajari ilmu tentang politik, karena darah politikus sudah ada di jiwanya, karena berasal dari keluarga yang aktif di dunia politik. Ia mengaku memiliki hubungan saudara dengan salah seorang mantan bupati Aceh Utara, serta anggota DPRK Aceh Utara yang saat ini menjadi anggota DPR Aceh.

“Saya merasa jalur politik adalah salah satu jalan untuk saya mencoba berkontribusi dan mengabdi demi perubahan Aceh ke arah yang lebih baik,” ujar tokoh santri yang dipercaya sebagai Ketua Sentral Aktifis Dayah Untuk Rakyat, SADaR Aceh.

Saat melanjutkan pendidikan program paska sarjana di Banda Aceh, Tgk. Mudas menemukan fenomena persoalan lain yang diakuinya membuat hati miris. Menurutnya pemerintahan yg sedang berjalan hanya memanfaatkan Ulama, Santri dan Masyarakat yang cinta dan peduli dengan dunia Dayah.

Dalam setiap Organisasi yang diikuti, Tgk. Mudas selalu mengutamakan Program Bantuan kepada Masyarakat Miskin dan Korban Bencana

“Pesantren atau Dayah hanya dimanfaatkan untuk kepentingan mereka yg prakmatis dan bersifat sesaat, tanpa ada niat sedikitpun untuk mengambil atau memperhatikan aspirasi dan ilmu dari para ulama aceh,’‘ sebut Ketua ASWAJA yang merupakan salahseorang inisiator aksi Parade ASWAJA tahun 2015.

Tgk. Mudas (Peci Merah) dalam Aksi Bela Islam 411 bersama Pejuang Aswaja di DPR Aceh

Disebutkannya juga, upaya pemanfaatan Ulama pada Pilkada tahun 2017 menjadi kasus dan bukti kekinian yang semakin membulatkan tekadnya terjun ke dunia politik.

Proses pembelajaran dan pengalaman Mudas di arena politik sudah dilakoninya saat bergabung dalam tim pemenangan Tgk. H. M/ Yusuf (Tu Sop Jeunib)  dalam kontestasi Pemilukada Bireuen. Juga menjadi bagian tim pemenangan Muzakir Manaf (Mualem) -TA Khaled, sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh.

Tgk. Mudas dikenal dekat dengan Ulama dan Umara Tokoh Aceh. Photo saat Silaturahim dengan Mantan Wakil Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf (Muallem)

Memilih PDA Sebagai Rumah Politik

Niat Tgk. Marsyuddin untuk memasuki dunia politik secara total pun diwujudkan dengan bergabung dengan salahsatu partai politik lokal di Aceh. Setelah istikharah, pemikiran matang serta pembahasan panjang, terutama mengikuti nasehat para guru, Mudas memilih bergabung dengan Partai Daerah Aceh (PDA) yang pada pemilu 2019 mendapat nomor urut 17.

Tgk. Mudas dalam Musyawarah Partai Daerah Aceh

“PDA adalah Partai yang diinisiasi oleh para Ulama Aceh diantarana Abu Panton Tgk. Ibrahim Bardan. PDA adalah partai yang komitmen dengan Akidah Aswaja dan intens memperhatikan aspirasi kalangan dayah,” jelas Mudas yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Akmal Hanif, Caleg DPR RI dapil 2 Aceh.

Bersama Tokoh Santri dan Dayah dalam Acara Maulid di Dayah MUDI Mesra Samalanga

Melalui jalur politik dan partai PDA, juga Mudas ingin menyampaikan dan membuktikan kepada rakyat Aceh bahwa masalah yang terjadi di Aceh sudah sangat komplek. Walau banyak solusi yang telah ditawarkan, namun realisasinya masih “jalan di tempat.”

Tgk. Mudas Mendampingi Ketua Partai Daerah Aceh PDA) Tgk Muhibussabri A Wahab dalam silaturahim Pengurus PDA dengan Masyarakat

“Sudah saatnya kita kembali kepada fitrahnya Nanggroe Aceh, dengan menempatkan Ulama sebagai panutan, dan Dayah sebagai solusinya,” pesan Mudas yang mengaku sedang berbahagia, seraya memohon doa untuk menjadi seorang Ayah.

Riwayat Singkat.

  • Nama Lengkap : Marsyuddin Bin Ishak Bin Abdullah Bin Hamzah Bin Yusuf Bin Ampon Ahmad.
  • Tempat, Tgl Lahir : Lhoksukon, 14 Mei 1986
  • Istri : Nurmalita Binti Tgk. H. Yusuf.

Pendidikan.

  • SDN Negeri Bintang Hu MTsN Lhoksukon
  • MUDI Mesjid Raya Samalanga
  • STAI Al Aziziyah Samalanaga
  • Pasca Sarjana UIN Ar-Ranirry

Pengalaman Organisasi.

  • OSIS MTsN Lhoksukon
  • Ketua Ikatan Pelajar dan Santri(IPES) Lhoksukon 2007 – 2009
  • Sekjen Himpunan Santri dan Mahasiswa (JAMAS) MUDI Mesjid Raya Samalanga 2010 – 2012
  • Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) 2010
  • Presidium BEM Nusantara (BEMNUS) di Bekasi Jawa Barat 2011
  • Pengurus Rabithah Thaliban Aceh (RTA)

Jabatan Sekarang

  • Ketua Ahlul Sunnah wal Jamaah (ASWAJA) Aceh.
  • Ketua Sentral Aktifis Dayah Untuk Rakyat (SADaR) Aceh.
  • Wakil Ketua Bidang Perindustrian DPD KNPI Provinsi Aceh.
  • Wakil Ketua Ikatan Pemuda Aceh Utara (IPAU) di Banda Aceh.
  • Sekretaris Umum Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Provinsi Aceh.
  • Wakil Sekjen DPP Partai Daerah Aceh (PDA) Koordinator Daerah (Korda) 3 Kabupaten/ Kota, meliputi Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara.

 

 

 

Show More

Deddy Ridwan DS

Deddy Ridwan menekuni dunia jurnalis sejak masa kuliah bergabung dengan UKM Radio Kampus Unsyiah 100,9 FM (1997) mengikuti jejak sang Ayah (alm.) Ridwan DS, wartawan senior RRI Banda Aceh. Tahun 2007 menjadi Presenter Talkshow, Produser Program, Anchor dan Reporter Aceh TV hingga sekarang. Tahun 2015 sempat bertugas sebagai staf Humas MPU Aceh. Tahun 2016 bertugas sebagai Humas elhanief Group dan mulai mengelola Lensa Aceh dibawah PT. Elhanief Makmur Abadi Media

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close