OPINI

Mengubah Wajah Disiplin Kita

SEBUAH undangan untuk rapat penting tertera akan dimulai pukul 09.00 Wib. Buru-buru berkemas takut terlambat. Banyak hal yang harus dikerjakan sebelumnya, termasuk menunaikan Salat Dhuha sebagai sedekah kepada 360 persendian.

Namun, apa dinyana, yang dirisaukan ternyata tak begitu adanya. Hingga pukul 10.10 Wib, rapat penting itu belum juga dimulai. Bukan kali ini saja saya melihat dan alami kejadian begini. Berkali-kali, dan tak terhitung lagi.

Kemarin, pekan lalu, bulan lalu, tahun lepas, amat sering berada dalam situasi yang seakan menggambarkan ketidak-seriusan kita ini. Saya tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi?
Apanya yang salah? Di mana letak salahnya?
Mengapa kita begitu mudah mengabaikan waktu?
Tidak pentingkah detik, menit, jam, atau hari-hari yang berlalu dan kita lalui ini?

Mungkin, inikah bentuk betapa tidak seriusnya kita?

Ya, sepertinya kita tidak atau kurang serius dalam mengurus apa yang sepatutnya diurus. Kita tak serius dalam mengemban sesuatu yang harus diurus.

Ataukah, yang kita urus itu mungkin tak harus serius diurus?
Ataukah, kita sengaja lupa, meski sebenarnya sedang berada dalam kerugian seperti diingatkan Allah Subhanahu wata’ala dalam Surah Al-‘Asr tentang Masa/Waktu.

Begitu sulit untuk berdisiplin diri. Disiplin pribadi, disiplin kelompok, atau disiplin dalam lingkup yang lebih luas seperti menjadi barang langka di negeri ini. Bahkan, ketika ada seseorang ingin menegakkan disiplin tak luput dia dinilai aneh, dibenci, dan dicap “sok disiplin”.

Ada guru atau dosen yang memulai jam mengajar sesuai waktu yang tertera, tegas dalam aturan, komit dengan kontrak belajar, justru tak selalu disukai oleh para peserta didik. Mereka yang terbiasa dengan jam “karet” tak nyaman, tak senang, dengan mereka yang sudah terbiasa disiplin menggunakan jam “digital”.

Aneh rasanya, mengapa saat berada di luar negeri, di Negeri orang, kita bisa disiplin? Kita patuh pada segala aturan yang berlaku di sana. Bisa sabar mengantri, mau buang sampah di tempatnya, datang tepat waktu di acara yang diagendakan, tidak merokok dalam bis atau mall dan di sembarang tempat, dan lainnya.

Mengapa saat di Negeri sendiri, di rumah sendiri, bahkan di acara-acara yang dihelat di sini, kita jadi tak bisa disiplin? Lagi-lagi, mengapa dan ada apa dengan kita?

Ini tentu patut menjadi renungan kita bersama, termasuk oleh saya yang menulis status ini. Soal disiplin tak sepatutnya dianggap tak penting. Disiplin adalah antara yang sangat penting dalam menuju suatu kemajuan atau perubahan. Kedudukan disiplin ini setara dengan sifat-sifat amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Sudah sepatutnya kita memaknai disiplin pada arti yang sesungguhnya. Dan, saatnya kita harus mengubah wajah disiplin kita. Tidak lagi main-main.

Disiplin, ya disiplin. Bukan singkatan, “disini plin-plan”, atau “disini plintat-plintut”.

Tags
Show More

Rustam Effendi

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, INDONESIA Pascasarjana Ekonomi UKM Malaysia 1999 GTZ 2009 - 2010 Pengamat Pendidikan dan Ekonomi Aceh Penulis Opini

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close