MUQ BUSTANUL ULUMNANGGROENEWS

Tujuh Orang Jadi Tersangka Terkait Demo Santri Madrasah Ulumul Quran Langsa

3 Tokoh Masyarakat, 4 Guru MUQ Bustanul Ulum

Lensa Aceh, Langsa – Tiga orang tokoh masyarakat dan empat orang guru Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Langsa dikriminalkan oleh salah satu Pembina Yayasan Dayah Bustanul Ulum (YDBU), terkait aksi demo santri madrasah tersebut pada 15 Juli 2012. Ketujuh orang itu dituding telah mencemarkan nama baik MUQ Langsa.

Penetapan ini atas pengaduan salah seorang oknum Dewan Pembina YDBU, ke kepolisian dengan nomor LP/231/VII/2012/Aceh/Res.lgs tertanggal 16 Juli 2012. Kini pengaduan tersebut ditangani Polsek Langsa Timur.
Mereka yang dijerat pasal pencemaran nama baik tersebut adalah M. Ali Usman (tokoh masyarakat Kota Langsa), Ilyas (tokoh masyarakat Kota Langsa), Noto (tokoh masyarakat Kota Langsa), Dedek Gustian (Guru MUQ Langsa), Ibnu Chaldun (Guru MUQ Langsa), Samsul Bahri (Guru MUQ Langsa) dan Aswandi (Guru MUQ Langsa), dalam delik pencemaran nama baik, fitnah dan penghinaan sebagaimana pasal 310 juncto 311 juncto 315 KUHP.
Demikian disampaikan Mohd Jully Fuady dari kantor pengacara JF AND PARTNERS LAW FIRM, selaku salah satu kuasa hukum para tersangka melalui siaran persnya kepada The Atjeh Post Senin 6 Agustus 2012.
Kata Jully, penetapan kasus tersebut ditemukan beberapa kejanggalan dalam proses hukum ketujuh orang kliennya tersebut. Di antaranya, kata dia, kepolisian terlalu cepat dan terburu-buru menetapkan ketujuh tersangka atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan fitnah.
“Sehingga terkesan proses hukum ini terlalu dipaksakan padahal dari hasil pemeriksaan tidak terdapat cukup alat bukti atas tindak pidana tersebut,” ujar Jully.Selanjutnya, kata dia, penyidik Polsek Langsa Timur juga telah melanggar Undang-undang Perlindungan Anak, karena melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap salah satu santri MUQ yang masih di bawah umur, tanpa surat pemanggilan.
“Pada saat pemeriksaan untuk dimintai keterangan sebagai saksi atas perkara pencemaran nama baik dan fitnah ini, santri tersebut tidak didampingi oleh orang tuanya,” ujarnya.
Jully mengatakan saat siswa tersebut diperiksa hanya didampingi salah satu oknum guru yang bertugas sebagai penjemput dan tidak diberikan kuasa oleh orang tuanya.
“Atas dasar hal tersebut, kami sebagai kuasa hukum tersangka menyimpulkan bahwa pemeriksaan atas perkara ini senantiasa harus dihentikan penyidikannya karena  tidak terpenuhinya unsur pidana dari alat bukti yang ada,” ujar Jully.
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan santri Madrasah Ulumul Quran atau MUQ Gampong Alue Pinang, Langsa, berunjuk rasa pada Minggu pagi, 15 Juli 2012 sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka memprotes pemecatan tujuh guru madrasah oleh Yayasan Dayah Bustanul Ulum Langsa.
Akibat aksi itu aktivitas belajar para santri sempat terhenti. Santri menuding manajemen madrasah telah dikuasai pihak tertentu dan dijadikan ajang permainan politik. Para santri juga membawa sejumlah poster bertuliskan protes mereka terhadap kebijakan yayasan itu.
Kisruh di MUQ juga berlanjut saat ratusan orang wali murid, para alumni, para guru dan tokoh masyarakat setempat merasa kecewa dengan sikap para pengurus yayasan tersebut.
Mereka menuntut Pemerintah Kota Langsa, Aceh Tamiang dan Aceh Timur untuk mengambil alih Yayasan Dayah Bustanul Ulum selaku pengelola Madrasah Ulumul Quran Langsa. Permintaan tersebut karena konflik yang terjadi antara yayasan dimaksud dengan para wali santri, guru, alumni dan masyarakat setempat belum ada titik temu.
Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close